Pada tahun 1907, Maria Montessori membuka Casa dei Bambini (Rumah Anak-Anak) di distrik San Lorenzo, Roma — sebuah kawasan kumuh tempat anak-anak dari keluarga pekerja dititipkan saat orang tua mereka bekerja (Montessori, 1912). Apa yang ia temukan di sana mengubah paradigma pendidikan dunia. Di lingkungan yang chaotic dan minim perhatian, Montessori mengamati bahwa ketika diberi kebebasan memilih aktivitas dan lingkungan yang disiapkan dengan cermat, anak-anak menunjukkan konsentrasi yang luar biasa.
Montessori mengamati bahwa anak-anak yang diberikan kebebasan untuk memilih aktivitas mereka sendiri dalam lingkungan yang disiapkan (prepared environment) menunjukkan konsentrasi mendalam, disiplin diri, dan kegembiraan belajar yang luar biasa — tanpa hukuman maupun hadiah (Lillard, 2005). Fenomena yang ia sebut normalization ini — di mana anak mencapai keseimbangan emosional dan intelektual — menjadi bukti hidup bahwa metode ini bekerja.
Penemuan ini bertentangan dengan asumsi umum saat itu bahwa anak-anak perlu dikendalikan dan diarahkan secara ketat. Montessori menunjukkan bahwa anak memiliki dorongan alami untuk belajar — yang ia sebut horme — dan tugas orang dewasa adalah memfasilitasi, bukan mendikte (Montessori, 1949). Dia percaya bahwa pendidikan sejati adalah perkembangan natural dari potensi anak, bukan penimbunan pengetahuan dari luar.
Dari Roma, metode ini menyebar ke seluruh dunia dengan kecepatan luar biasa. Pada 1920-an, sudah ada sekolah Montessori di Amerika, Inggris, dan berbagai negara Eropa. Saat ini terdapat lebih dari 60.000 sekolah Montessori di 145 negara (American Montessori Society, 2023). Di Indonesia, sekolah-sekolah Montessori umumnya berstatus internasional dengan biaya Rp 100-500 juta per tahun, merepresentasikan elite education. Namun filosofi Montessori bisa diterapkan di rumah dengan minimal cost.
Riset modern mendukung efektivitas pendekatan Montessori secara konsisten. Studi longitudinal oleh Lillard dan Else-Quest (2006) yang dipublikasikan di jurnal Science menemukan bahwa anak-anak Montessori menunjukkan performa lebih baik dalam membaca, matematika, dan keterampilan sosial dibandingkan anak-anak di sekolah konvensional. Executive function mereka (kemampuan planning, focus, dan impulse control) juga signifikan lebih tinggi.
Saat ini, Montessori berkembang menjadi berbagai varian: Traditional Montessori (strict adherence terhadap metode original), AMI Montessori (Association Montessori Internationale), dan AMS Montessori (American Montessori Society). Meskipun ada perbedaan detail, semua bersepakat pada prinsip-prinsip inti: child-centered, hands-on learning, dan respecting individual pace.
Di Indonesia khususnya, adopsi Montessori sering terjadi di sekolah-sekolah bilingual atau international schools. Namun semakin banyak orang tua yang sadar bahwa prinsip-prinsip Montessori bisa diterapkan di rumah untuk mendukung pembelajaran anak, terlepas dari apakah mereka mengenyam pendidikan formal Montessori atau tidak.
Pelaksanaan Montessori di era modern juga menghadapi tantangan tersendiri. Di zaman digital, ketika gadget dan stimulasi eksternal berlimpah, mempertahankan 'prepared environment' yang tenang dan terstruktur menjadi lebih challenging. Namun justru itulah relevansinya — anak-anak zaman sekarang butuh LEBIH, bukan lebih sedikit, kebebasan untuk focus dan berkonsentrasi.